Friday, July 19, 2013
Rekrutmen CPNS; Musim Panennya Para Calo
Rekrutmen CPNS; Musim Panennya
By: Anna Christi Suwardi
Berita
dalam kolom detikfinace.com yang bertajuk “Pemerintah Cari 20.000 CPNS untuk
Ditempatkan di 68 K/L” pada hari Jumat, 19 Juli 2013 oleh koresponden Herdanu
Purnomo sangat menarik untuk ditanggapi. Terpapar detail kuota Calon Pegawai
Negeri Sipil (CPNS) yang akan dibuka oleh pemerintah pada September mendatang.
Barangkali kabar ini merupakan angin segar bagi para tenaga honorer dan para
CPNS hunters diseluruh penjuru
negeri.
Seseorang
yang layak menyandang status PNS, selayaknya adalah sosok yang high quality performance dan capable dalam bidangnya. Memiliki
intergritas tinggi, serta memegang teguh nilai-nilai kearifan dengan jiwa responsive dan responsible yan konsisten. Mengingat menjadi PNS merupakan
pengembanan tugas negara, melayani rakyat, dan menjadi mesin penggerak terdepan
roda kepemerintahan.
Lalu, apakah pertiwi ini sudah
mendapatkan sosok-sosok itu?
Fokus
perhatian saya tertuju pada apa yang dituliskan Herdanu Purnomo bahwasannya ”terdiri dari 68 Kementerian/Lembaga (K/L)
dengan jumlah formasi 20.000 orang, sedangkan 40.000 orang untuk 30 pemerintah
provinsi, serta 197 kabupaten/kota”, sebuah jumlah yang fantastis untuk
perekrutan CPNS yang sudah ditungu-tunggu di penghujung tahun 2013 ini,
terutama yang akan dialokasikan untuk pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Terutama didaerah (provinsi dan
kabupaten/kota) agaknya kabar bahagia ini akan lebih membahagiakan bagi para
calo-calo CPNS. Sudah menjadi rahasia umum, praktek pencaloan dalam proses
rekrutmen CPNS kian marak saja dari tahun ke tahun. pada tingkat daerah,
praktek pelanggaran seperti ini memiliki tingkat prosentase yang lebih tinggi
ketimbang rekrutmen di tingkat Kementrian/Lembaga pusat. Hal ini disebabkan
oleh lemahnya proses pengawasan serta transparansi dilevel daerah dan semakin menjamurnya
kolusi serta nepotisme dalam lingkup petinggi-petinggi pemerintah daerah
setempat.
Awal minggu ini misalnya, di
Maka
uanglah yang menjadi penentunya. Proses seleksi yang panjang dan telah didesain
sedemikian rupa, dengan ratusan pertanyaan yang dibuat oleh tim khusus, pada
ahirnya hanya menjadi ritual formalitas belaka. Bagaimana tidak? Siapa saja
yang mampu menyediakan ratusan juta rupiah melalui calo-calo cpns itulah, yang
memiliki kemungkinan lolos tes, karena namanya yang telah dimasukkan dalam
daftar terselubung oknum yang berada didalam seleksi CPNS.
Di
Merangin-Jambi misalnya, seorang sarjana tehnik dengan IPK pas-pasan dan tanpa
prestasi akademik, namun berdompet tebal dan memiliki relasi dengan calo-calo
yang ada dalam ruang lingkup kepemerintahan daerah, dapat melenggang mulus
menjadi PNS. Namun pastinya dapat ditebak, seperti apa sumbang sih kinerjanya
dalam bertugas. Nol besar tanpa wujud signifikasni yang nyata, sehingga yang
berkembang hanyalah habbit kinerja
yang korup tanpa kredibilitas.
Jika realitas seperti ini masih
terus saja dibiarkan, maka akan jadi apa republik ini?
Mengingat
agenda besar ini hanya tinggal dua bulan mendatang. Maka seharusnya pemerintah
pusat memandang hal ini memiliki urgensi yang tinggi agar sesegera mungkin
dapat dibasmi dalam proses rekrutmen CPNS. Tindakan-tindakan pengawasan yang
ketat, dan punishment yang berat selayaknya perlu ditegakkan.
Sehingga efek jera dapat dirasakan oleh mereka yang berperan sebagai calo dan
CPNS yang menggunakan jasa busuknya ini.
Dengan
semakin terhapusnya praktek-praktek pencaloan CPNS dan segala macam tindakan
kecurangan. Seperti halnya yang menjadi harapan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(MenPAN RB), beliau mengatakan dalam reformasi bidang pengadaan CPNS ini
diharapkan pemerintah akan memperoleh putra-puteri terbaik bangsa menjadi CPNS.
Sehingga kualitas PNS dapat terbenahi dan menghasilkan sumbang sih nyata bagi
kemajuan negara. Semoga.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment